Jombang, 26 September 2025 – Aqobah International School (AIS) kembali melanjutkan tradisi bulanan International Scientific Talk (IST). Setelah edisi Agustus menghadirkan inovasi pembelajaran berbasis Augmented Reality, edisi September 2025 ini mengangkat topik yang tak kalah menarik, yakni pendekatan Montessori dalam pendidikan.
Keynote speaker pada kesempatan ini adalah Mr. Ahmad Agung Masykuri, S.Pd. (Guru Sosial AIS) dengan materi berjudul “Montessori: Alternatif Metode untuk Membangun Karakter dan Kemandirian Siswa”. Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa Montessori bukan sekadar metode pembelajaran biasa, melainkan sebuah pendekatan yang berfokus pada pengembangan kecerdasan emosional, keterampilan sosial melalui diskusi kelompok, serta kemandirian siswa.
Suasana diskusi berlangsung dinamis. Direktur AIS, Mr. Masrul Hidayatullah, S.Si., (Direktur AIS) sempat mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana dunia internasional merespons Montessori, serta apakah Montessori dapat dikategorikan sebagai kurikulum formal atau lebih menyerupai program alternatif seperti Paket C di Indonesia. Menanggapi hal tersebut, Mr. Ahmad Agung Masykuri menjelaskan bahwa Montessori pada dasarnya adalah metode untuk mencapai tujuan perkembangan emosional siswa, melatih kerja sama, dan menyelesaikan masalah. Siswa memang diberikan kebebasan belajar, namun dengan target yang jelas, ketat, dan harus dituntaskan. Jika pendekatan ini diformalkan dalam sebuah struktur tertentu, maka Montessori dapat disebut sebagai kurikulum.
Selain pemaparan materi, sesi IST ini juga menampilkan berbagai contoh implementasi Montessori di sekolah-sekolah dunia yang menunjukkan apresiasi luas terhadap metode tersebut. Montessori dinilai sebagai pendekatan pembelajaran yang humanis, terstruktur, dan berorientasi pada pembentukan karakter siswa.
Para peserta juga memberikan refleksi menarik setelah mengikuti diskusi. Mr. Ahmad Agung Masykuri, S.Pd. menilai bahwa IST menjadi tempat berbagi yang berharga untuk melihat dunia penelitian dari sudut pandang pendidikan. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya untuk peningkatan mutu murid, tetapi juga ruang berkembang bagi guru. Ia menambahkan bahwa IST adalah wadah diskusi aktif yang memungkinkan para pendidik bertukar ide dan perspektif dalam bingkai riset, sekaligus menjadi salah satu sarana terbaik untuk terus belajar sepanjang hayat.
Hal senada disampaikan Ms. Najatul Ubadati, S.Pd. (Founder AIS IST & Assistant Director for English Advancement and Global Outreach of AIS). Ia melihat IST September ini semakin memperlihatkan perannya sebagai ajang kolaborasi, di mana guru tidak hanya menyimak materi, tetapi juga aktif berdiskusi, bertanya, dan menyumbangkan ide. Keterlibatan peserta, menurutnya, menegaskan bahwa IST benar-benar mendorong lahirnya semangat belajar berkelanjutan, profesionalisme, dan keterbukaan terhadap berbagai metode pendidikan.
Sementara itu, Mr. Moh. Zahir Masrul, M.Si. menyampaikan bahwa ia mendapatkan wawasan baru terkait metode Montessori. Ia menegaskan bahwa mendidik bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan juga membimbing siswa agar tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, terampil, dan memiliki kecerdasan emosional.
Melalui gelaran ini, AIS sekali lagi menegaskan komitmennya untuk menjadikan IST sebagai wadah penguatan budaya riset, eksplorasi pendidikan global, serta peningkatan kapasitas profesional guru. Harapannya, melalui diskusi bulanan ini, para pendidik AIS semakin siap menghadapi tantangan pendidikan modern dengan bekal wawasan, inovasi, dan semangat kolaborasi.